Holiday

January 18th, 2016

Salah satu kegiatan liburan beberapa pekan silam.

Tags: ,

Cewek dan Cowok itu Berbeda

December 6th, 2015

Ada yang berbeda ketika gue mengamati kehidupan antara jomblowan dan jomblowati. Salah satu perbedaannya yang paling besar adalah masalah kenistaan. Sebagian besar orang berfikir jomblo ada spesies terkutuk yang gak akan pernah bisa dapat pasangan. Untuk menjelaskan betapa anehnya status jomblo ini bisa kita lihat dari timeline sebagai contoh.

Ketika cowok bikin status di Facebook.

Malam minggu masih jomblo nih. Ada yang mau gue ajak jalan gak?

Yang nge-like cuma 5 orang. Semua adalah sahabat sendiri.

Isi komen paling banter 10 komen dan bernada caci-maki.

Isi komen:

“Jomblo loe bro? Haha. Mampus.”

“Sabar bro. Berdoa sama yang diatas, mungkin ada mukzizat.”

“Masih ada guling bro.”

Atau sampe yang paling ekstrem, “gue doain loe cepat mati bro.”

Memang kami kaum cowok selalu dipandang rendah. Padahal dalam status cuma mempromosikan diri ingin dapat pacar, eh yang ada dapat sumpah serapah.

Terlepas dari fenomena biadap seperti tadi, gue juga ngelihat perbedaan signifikan ketika seorang cewek mencoba mempromosikan kesendiriannya.

Ketika cewek bikin status di Facebook.

Malam minggu gue sendiri. Ada yang mau nemenin jalan gak?

Yang like 100 orang.

Komentar sampe membludak hingga jutaan.

Isinya tidak jauh-jauh dari:

“Nopenya brp neng? Sama kakang yuk jalan.”

“Pin BB please.”

“Jadi pacar gue mau gak? Kalau loe mau akan gue temenin loe sampai ke Bulan sekalipun.”

Okeh… okeh. Dalam hal ini gue akuin kalian para cewek bisa mengangkat dagu tinggi-tinggi. Tapi jangan terlalu ketinggian, ntar daki loe di sela-sela leher kelihatan.

Keanehan antara cowok dan cewek tadi juga terlihat dalam fashion.

Misalkan ada temen yang ngajak hangout.

Kasus cewek.

Temen: eh tiur, kita ke Mall yuk?

Tiur: males ah, gue gak ada baju. Baju yang kemarin-kemarin udah gak mode.

Gagal hangout.

Kasus cowok.

Temen: Rea ke Mall yuk hunting sepatu baru?

Gue: okeh bro. Tapi gue belum nyuci baju nih. Gue pakek baju yang kemarin aja gapapa ya?

Temen: gapapa.

Jadi hangout.

Simple kan?

Sampai gue ngetik tulisan ini, gue juga belum bisa memahami spesies paling absurd sedunia, cewek.

Sebelum gue jadian dengan Ayu, gue adalah ciptaan tuhan yang paling hina dimata temen. Selalu gue dikatakan gak laku, dikatain tidak mempesona untuk menarik lawan jenis. Padahal sesungguhnya memang iya! Menjadi seorang jomblo itu sebenarnya susah, tapi sulit. Setiap hari kalau gue jalan pasti ada yang bisik-bisikin nama gue. Ibarat gue gak layak hidup.

Didorong perasaan tak bermoral akan lingkungan seperti itu, gue akhirnya jadian sama Ayu. Berkat Ayu, gue jadi gak dilecehkan lagi sama temen-temen. Gue jadi sederajat sama manusia.

Kenapa Ayu mau sama ikan cucut kek gue? Baca selengkapnya »

Tags: , ,

Mangkuk Lope-lope RS

December 6th, 2015

Kakak gue kena DBD. Dan hari itu dirawat di rumah sakit setempat. Ketika itu kita menggunakan layanan BPCS. Dan tentu saja, program pemerintah itu membuat kita tidak perlu mengeluarkan biaya. Apalah daya, namanya juga gratis. Layanan yang diberikan tidak maksimal, dan tidak memuaskan. Secara pribadi gue tidak puas akan pelayanan dari rumah sakit. Tapi daripada kakak gue berubah menjadi mayat, mending gue sabar sampai nungguin dia sembuh. Lebih aneh lagi, setiap pasien yang menggunakan layanan BPCS wajib di interview setelah sembuh. Petugas interview-nya utusan pemerintah. Kakak gue yang baru sembuh gak bisa bicara, karena dia juga dalam proses penyembuhan. Terpaksa petugas mewawancarai gue. Pilihan yang salah ketika mereka menunjuk gue. Dan akhirnya dimulailah tanya jawab antara petugas wawancara dengan gigolo impoten (gue).

****

Petugas: Bagaimana menurut Anda kecepatan pegawai rumah sakit dalam pendaftaran BPJS?
Gue : Hmm. Lambat sekali. Mungkin karena kami gratisan jadi mereka mengulur waktu.

Petugas: Apakah pegawainya ramah-tamah?
Gue : Sebenarnya gue males bahas ini, sepertinya setiap hari wajah mereka menggambarkan penindasan dalam urusan boker.

Petugas: Menurut Anda mengenai dokter kami?
Gue : Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, saya tidak menyukainya. Kami juga tidak saling kenal. Tapi hal ini mungkin bisa diubah setelah kami kenalan dulu. Siapa tau ada chemistry.
Petugas: ….

Petugas: Tentang ruangan RS ini, apakah menurut Anda cukup terang?
Gue : Pencahayaannya tidak bagus. Saya lebih suka warna merah marun.
Petugas: ….

Petugas: Apakah sampah-sampah yang ada di RS ini sudah diperhatikan dengan baik?
Gue : Saya salut sama tukang sampahnya. Semua bersih. Sepertinya tukang sampahnya lulusan USI ( Universitas Sampah Indonesia). Hmm.

Petugas: Menurut Anda mengenai makanan dirumah sakit ini?
Gue : Sangat buruk. Masakannya tidak enak, uhm.. nasinya bagus sih. Tapi saya lebih suka mangkuknya. Mangkuknya cantik. Mungkin kalau saya dikasih mangkuknya, akan saya bawa tidur satu kasur dengan saya, lalu saya selimutin. Saya kan gak mau mangkuknya sakit karena kEdinginan.
Petugas: ?

Petugas: Bagaimana perlengkapan untuk makan? Apakah sudah dipenuhi?
Gue : Saya tidak melihat ada obeng, tang, dan gergaji mesin disana.
*petugasnya ngunyah kolor*

Petugas: Bagaimana kenyamanan ketika malam hari? Apakah banyak nyamuk?
Gue : Baru satu hari saya menginap disini. Paginya saya Anemia.
….
Petugas: Okeh baiklah pak Rea. Terima kasih atas waktunya. Oia, terakhir kami mau meminta bapak mengisi kertas kritik dan saran untuk RS ini.

Kemudian dia memberikan gue secarik kertas dan pena. Gue disuruh ngisi segala unek-unek gue tentang rumah sakit itu.

 

Kritik dan Saran untuk RS :
Kpd YTH kepala dan leher pimpinan RS,
Di tempat senggama
Saya sangat speechless disuruh ngisi yang beginian. Saya gak tau mau mulai darimana. Tapi bagi saya menginap di RS ini merupakan kehormatan tersendiri bagi saya. Rumah sakit ini cukup bagus sih, hanya saja pelayanan susternya sebelas-dua-belas dengan sipir penjara. Susternya kejam. Jahat. Saya tidak suka. Saya sakit hati, dan saya terluka. Hubungan ini sudah gagal. Saya gak mungkin bisa move on. Hiks. Tapi ini serius. Pelayanan suster mengingatkan saya dengan mantan saya. Saya benci. Udah ya, saya gak bisa ngomong kayak gini lama-lama. Kalian harus mikirin perasaan saya.

Tertanda,
Orang gila → Dr, M. Koma, Rea
(Asisten pasien)

 

Petugas juga memberikan selembar kertas kepada kakak gue. Kakak gue ngambil pulpen dan mengisi kritiknya. Selesai mengisi, dia langsung mengembalikannya ke petugas. Si petugas langsung ngebaca kertas tersebut. Kemudian habis membaca, dia menatap gue tajam. Tersenyum ala sang homo pemangsa anak-anak SD. Dia ngambil garpu, kemudian dihunuskan ke bokong gue. Gue ngelak. Ngibrit. Petugas nguber gue.
Selidik punya selidik isi kritik kakak gue adalah ini:

Kritik dan Saran untuk RS :

TOLONG BUNUH ADIK SAYA!

Tertanda kedua (lengkap dengan tanda tangan)
Yosephine Yemima
(Pasien asli)

Tags: , ,

TV Butut

May 28th, 2015

Lama banget gue gak menjamah lu binggo (panggilan buat blog gue).
Ceritanya hari ini gue gak bisa nonton DVD karena tipi gue rusak. 🙁
Makanya gue nyoret tubuh lu binggo.
Padahal itu tipi udah gue reparasi dua kali, tetap juga gak bener. Dasar tipi bermental radio, baru umur enam taon ajah lu udah pada error.

Tipi butut yang terobsesi menjadi Hulk.

Tipi butut yang terobsesi menjadi Hulk.

Dengan ini resmi gue di tuntut untuk menabung. Biar bisa beli tipi baru. Semoga dengan terbelinya nanti tipi baru akan menambah daya jual gue di kalangan wanita dewasa.

The Past & The Memory (Part 3)

May 28th, 2015

Clara masih memandangi gue tajam, menunggu jawaban gue. Asap rokok yang mengepul dari bibirnya menambah susasana seram sore itu. Lebay.
“Apa sih gunanya loe ngelakuin itu ke Toni?”
“Biar dia bisa rasakan apa yang gue rasain.”
“Terus loe dapet apa?”
“…”
“Gak ada kan?”
“…”
“Loe hanya akan makin menambah cerita buruk dalam hidup loe.”
“Gak tau deh Re…”
Clara tiba-tiba berdiri. Lalu mengeluarkan beberapa lembar duit dan meletakkannya di meja.
“Ini! Ini bill gue, minuman loe juga biar gue yang traktir. Gue mau pergi dulu. Gue pusing!”
Clara berlalu. Meninggalkan gue di café sendirian.

Baca selengkapnya »

Tags: